Thursday, November 30, 2017

Perbedaan Otak Laki-Laki dan Perempuan

Pantes saja ya perempuan lebih cerewet daripada laki-laki. Dan saat berkomunikasi dengan pasangan seringkali perempuan sudah berbicara panjang kali lebar kali tinggi tetapi hanya dibalas dengan kalimat singkat. 😁

Nah ini pas banget di cemilan kedua mendapatkan resume kajian ilmiah mengenai perbedaan otak laki-laki dan perempuan.

Disalin dari Grup WhatsApp Bunsay#3_Jakarta pada Rabu, 15 November 2017, yang disampaikan oleh fasilitator Mbak Arie Rahmah.


πŸ„ *Cemilan Ke-2*πŸ„
Materi Level-1 Komunikasi Produktif
Rabu, 15 November 2017

RESUME KAJIAN ILMIAH

PERBEDAAN OTAK LAKI-LAKI DAN PEREMPUAN
OLEH Dr. AISYAH DAHLAN


Penelitian tentang perbedaan otak wanita dan pria memerlukan waktu kurang lebih 10 tahun.

Berikut perbedaan-perbedaan tersebut diantaranya:

1. Jumlah Komunikasi per hari
Pria mengeluarkan tidak lebih dari 7000 kata, termasuk kata-kata dan bahasa verbal dan non verbal.
Wanita mengeluarkan 20.000 kata

2. Perkembangan Otak
Otak kiri mengatur bagian tubuh sebelah kanan, bekerja untuk mengingat kata-kata, matematika, verbal, logis, fakta, analisa, syair, nyanyian, lineal, detail dan lebih teratur.
Otak kanan cenderung kepada kreatif, warna, artistik, visualisasi, intuisi, gagasan, khayalan, holistik, music, bentuk dan ruang.
Pada laki-laki otak kanan berkembang terlebih dahulu, hal ini yang menyebabkan anak laki-laki usia kurang dari 18 tahun terkesan santai, tidak serius. Setelah 18 tahun barulah otak kirinya berkembang sama dengan otak kanannya.
Pada Perempuan otak kanan dan otak kiri berkembang seimbang, hal ini menyebabkan anak perempuan di usia sekolah cenderung lebih pintar dalam segala hal.
Tetapi ukuran otak kanan laki-laki lebih besar daripada perempuan setelah berkembang sempurna.

3. Corpus Colossum (Otak Tengah)
Laki-laki : Otak tengahnya tipis. Jadi otak kiri dan kanan bekerja sendiri-sendiri. Hal ini menyebabkan laki-laki cepat fokus setelah 10 menit. Dan pada saat fokus pendengaran laki-laki menurun.
Perempuan: Otak tengahnya lebih tebal 30%, sehingga otak kiri dan otak kanannya bersambungan. Menyebabkan perempuan bisa mengerjakan pekerjaan lebih dari satu pekerjaan dalam satu waktu.
Sudah Fitrahnya, 88% Pria Jarang lembut, jarang mempunyai perhatian, jarang mengerti wanita dan jarang pandai berkomunikasi.

4. Wanita ketika marah susah untuk berterus terang.
Pria jika marah atau kesal akan berterus terang.

5. Wanita jika tertekan butuh bicara, sedangkan pria akan diam untuk mencari solusi (Otak kanannya bekerja).
Pria berpikir wanita tidak mau ditanya pada saat tertekan seperti dirinya padahal wanita butuh mengeluarkan keluh kesahnya. Hal ini yang kadang menyebabkan pertengkaran.
Wanita juga berpikir hal yang sama ketika pria sedang ada masalah, wanita akan mengeluarkan banyak pertanyaan padahal pria hanya ingin diam. Pria akan berbicara ketika telah menemukan solusi.

6. Wanita jika curhat hanya ingin disimak, sedangkan pria bila mendengar curhat selalu menawarkan solusi sebagai bentuk tanggung jawabnya. Terkadang ini bisa menjadi sumber pertengkaran.

7. Wanita berbicara senang kontak mata karena Otak tengah yang tebal jadi kuat tatap mata dalam waktu lama, sedangkan Pria kurang menyukai kontak mata. Pria lebih menyukai melihat benda.

8. Laki-laki sudut pandang matanya sempit, Kornea dan Retina matanya memanjang lurus tidak bisa melebar. Hal ini menyebabkan terkadang susah mencari barang.
Wanita sudut pandangnya luas, Kornea dan Retinanya melebar.

9. Wanita kesulitan dalam membaca peta atau petunjuk arah. Hanya 12% perempuan yang jago dalam membaca peta. Hal ini dikarenakan ketebalan otak tengahnya.
Pria tahu arah dengan pasti

10. Wanita jika berbelanja merupakan kegembiraan, sedangkan Pria berbelanja adalah teror bagi Pria. Pria hanya punya waktu bersama hanya 20 menit. setelah itu sebaiknya diadakan kesepakatan terlebih dahulu.

11. Wanita melihat acara TV dengan tekun karena ingin menikmati emosi pemain. Sedangkan pria gemar mengganti saluran TV, hal ini karena mencari solusi.

12. Pancaran Emosi
Otak pria 99 pikiran dan 1 emosi, sedangkan Otak wanita 99 emosi dan 1 pikiran.
Jika pria mengalami emosi negatif (marah, sedih) berimbas pada otak kanan, sedangkan perempuan jika mengalami emosi negatif yang terganggu seluruh otaknya.
Ketika wanita sedih seluruh otak kena semua, wanita tetap masih bekerja tetapi kesedihannya tetap nampak. Wanita dapat mengendalikan 99 emosinya dengan 1 pikirannya.
Pria tidak nampak kesedihannya, karena otak kirinya tidak terganggu maka masih bisa bekerja seperti biasanya, memimpin rapat dan sebagainya.
Karena pancaran emosi sangat besar jika sudah marah sampai berteriak dan memukul berarti sudah marah besar. Ini makanya 1 emosinya tidak dapat mengendalikan 99 pikirannya.
Sedangkan Wanita jika marah sekali akan diam dan badannya kaku.

8 Hal yang membuat Pria menangis
1. Kehilangan orang yang dicintai
2. Bangkrut
3. Melihat orang yang disayangi sengsara
4. Mengecewakan
5. Dikecewakan
6. Melihat orang tua bangga
7. Sakit
8. Menyadari kesalahannya

Hormon Testosteron pada pria menyebabkan pria agresif, senang berburu. Hormon ini sifatnya tidak menetap maka pada usia 50-60 tahun testosteron menurun jumlahnya. Hal ini menyebabkan sifat agresi dan berburu berkurang berubah menjadi lebih mendidik, jadi yang lebih dominan adalah hormon perempuan seperti estrogen, sifat-sifat perempuan menjadi lebih dominan.

Sedangkan pada Wanita terjadi sebaliknya, setelah memasuki pre menopouse atau menopause (usia 40 tahun) hormon estrogen menurun dan testosteron tetap. Hal ini menyebabkan wanita merasa lebih tegas dan lebih percaya diri. Wanita jadi lebih aktif di luar. Wanita akan ditumbuhi rambut di wajah dan kaki dan akan lebih stres karena lebih aktif banyak pekerjaan.

Semua hal yang menyebabkan pertengkaran sebenarnya adalah fitrah, karena ketidaktahuan menyebabkan saling mengkritik. Hubungan pria dan wanita tetap berjalan walau ada perbedaan gender seperti ini. Hubungan ini akan bergejolak ketika secara biologis mereka tidak menerima perbedaan, ketika kita mengerti perbedaan tersebut kita bisa hidup bersama dan akan menyukai perbedaan itu. Ketika kita menerima perbedaan tersebut maka hubungan ini akan menjadi lebih indah selama hidup bersama.

Mitra yang terbaik adalah mitra yang terbalik.


Sumber:
Kajian Ilmiah Perbedaan Otak Perempuan dan Laki-laki Oleh Dr. Aisyah Dahlan. Rumil Al-Hilya Rumah Ilmu.


Membangun Komunikasi Positif Orang Tua - Anak

Cemilan 1 ini materinya makjleb banget, karena fokus tantangan inda ini adalah berkomunikasi produktif dengan anak. Mari semangat mempraktekkan dalam keseharian kita.

Disalin dari Grup WhatsApp Bunsay#3_Jakarta pada Rabu, 8 November 2017, 07.56 WIB yang disampaikan oleh fasilitator Mbak Arie Rahmah.


πŸͺ Cemilan ke-1πŸͺ
Materi ke-1 Komunikasi Produktif
Rabu, 8 November 2017

πŸ‘¨‍πŸ‘¨‍πŸ‘§‍πŸ‘¦ Membangun Komunikasi Positif Orang Tua- Anak πŸ‘¨‍πŸ‘¨‍πŸ‘§‍πŸ‘¦
Komunikasi yang baik sangat penting dalam hubungan antara orangtua dan anak. Karena melalui komunikasi orangtua dapat membangun hubungan yang menyenangkan dan positif. Dalam penelitian terkini juga menyebutkan bahwa anak yang tumbuh dengan komunikasi positif dengan orangtua cenderung memiliki kepribadian, daya tahan terhadap stress dan _self esteem_ yang lebih baik dibandingkan dengan anak yang memiliki hubungan dan komunikasi yang buruk dengan orangtua.

Kemampuan komunikasi dibutuhkan dalam hubungan orangtua dan anak, dimulai dari sejak dini hingga dewasa. Komunikasi yang baik adalah kunci dari hubungan yang saling menghargai dan terciptanya pribadi anak yang sehat serta terciptanya tumbuh kembang yang optimal.

Prinsip – prinsip dasar dalam mewujudkan komunikasi yang baik antara orangtua dan anak :

▶ Tunjukkan Ketertarikan dan Perhatian
Berikan respon positif sebagai bentuk dari ketertarikan atau perhatian anda. Tujuannya adalah agar anak menyadari bahwa apa yang ia utarakan adalah penting bagi anda.
Anda bisa memberikan tanggapan dengan kata sederhana seperti contohnya ; ” Oohh gitu… ” atau ” iyaa…teruss? ” atau ” hmmm,_ _jadi seperti itu yaa… “ atau bisa juga dengan ungkapan perhatian non verbal seperti menganggukkan kepala atau tersenyum.

▶ Komunikasi non-verbal
Sikap tubuh juga bisa mencerminkan bahwa anda memperhatikan dan terbuka atas apa yang disampaikan anak. Usahakan posisi tubuh dalam kondisi condong ke anak bukan sebaliknya karena akan mencerminkan anda tidak tertarik, posisi tangan terbuka, hindari bersilang tangan dan menopang dagu karena bisa diartikan anda bosan mendengarkan anak. Komunikasi verbal dan non-verbal sama-sama penting, orangtua seringkali mengabaikan komunikasi non verbal sehingga anak bisa menangkap hal tersebut sebagai sinyal negatif seperti penolakan dan tidak dihargai.

▶ Orangtua sebagai orang yang dapat diandalkan
Tawarkan bantuan jika isi pembicaraan mengandung sesuatu yang menyulitkan anak, buat anak merasa bahwa kita sebagai orangtua ingin ikut terlibat. Anda juga dapat memberikan saran jika anak mengemukakan kesusahannya dalam kasus tertentu, mengingat kemampuan _problem solving_ anak yang masih terbatas. Namun, orangtua perlu ingat porsi yang cukup untuk menolong anak agar anak tetap dapat menyelesaikan masalahnya sendiri dan kemampuannya terus berkembang.
contohnya ;” apa yang bisa ibu bantu? “

▶ Terima perasaan anak
Amati perasaan anak dan terima dengan cara mengucapkan perasaan mereka. Kadang anak terjebak dengan masalah yang mereka hadapi sehingga tidak bisa mengkomunikasikan perasaan mereka.
Dengan kita mencoba memahami mereka, anak akan merasa bahwa orangtua mengerti dan menerima perasaan mereka. kata-kata yang bisa diucapkan seperti contohnya ;
” itu bikin kakak sedih yaa… ” atau ” iyaa ibu juga sebel ya kalo diperlakukan seperti itu…” atau ”iyaa ibu mengerti kakak marah… “

▶ Fokus orangtua hanya pada anak
Hindari aktivitas lain saat anak sedang berbicara dengan anak, misalnya sambil menonton TV atau mengangkat telepon dari orang lain. Jika orangtua kerap melalukan hal tersebut maka lama kelamaan anak akan merasa tidak dihargai dan membuat mereka enggan menyampaikan perasaan mereka ke orangtua.
Jika anda terjebak dalam kondisi pekerjaan yang penting sebaiknya anda meminta anak menunggu kemudian memberikan ia waktu eksklusif untuk bercerita dibandingkan anda memaksaan seperti “menyambi” bekerja dan mendengarkan, komunikasi yang baik akan sulit terbentuk dan memungkinkan timbul konflik lain.

Berdua selalu lebih baik
Selalu tawarkan waktu berdua untuk komunikasi yang lebih bersifat pribadi, kecuali jika memang ada pihak lain yang perlu masuk dalam pembicaraan tersebut. Namun pada dasarnya berbicara berdua dari hati ke hati dapat membangun komunikasi yang lebih efektif.

Kontak mata dan level yang sejajar
Kontak mata diperlukan untuk komunikasi yang baik salah satunya agar tercipta rasa saling percaya. Untuk itu usahakan orangtua selalu ada di satu level ketinggian saat bicara dengan anak. Posisi kepala yang sejajar atau satu level ini juga menunjukkan kepada anak bahwa komunikasi bersifat dua arah dan sama-sama memiliki kepentingan sehingga anak akan merasa lebih dihargai.


▶ Membuat anak malu di depan umum adalah Big No.. No!
Jangan mempermalukan anak dalam situasi tertentu misalnya saat anak melakukan kesalahan sebaiknya orangtua menunggu untuk mengkomunikasikan rasa kecewanya, memberikan hukuman rasa malu di depan umum bukan cara komunikasi yang baik.

Bicara dengan kepala dingin
Jika anda marah akan sesuatu pada anak, maka sebaiknya redakan dulu amarah anda baru komunikasikan kekecewaan anda. Berbicara saat marah akan menghilangkan objektifitas masalah dan bukan cara komunikasi yang baik. Dalam hal ini manusia dikendalikan oleh dua hal yaitu emosi dan logika, saat marah maka seseorang akan naik emosinya sehingga logika akan turun. Untuk itu, hindari komunikasi saat marah karena hanya akan berisi emosi dibandingkan logika.

Selamat menjalin komunikasi ya…⭐
Salam Ibu Profesional,
/Tim Fasilitator Bunda Sayang Batch#3/

πŸ“šSumber bacaan:
Klik Psikolog. (19 Mei 2017). Membangun Komunikasi Positif Orang tua - Anak. Diperoleh 24 Oktober 2017, dari http://www.klikpsikolog.com/membangun-komunikasi-positif-orang-tua-anak/


Tantangan 10 Hari - Game Level 1

[Postingan yang tertunda]

Setelah mendapatkan materi, untuk mempraktekkan ilmu, kami diberi tantangan 10 hari dalam Game Level 1 ini. Tujuannya supaya langsung mempraktekkan dan terbiasa melakukannya sehingga ke depannya komunikasi produktif bisa menjadi kebiasaan baik.

Tantangan 10 Hari/Game Level 1 Komunikasi Produktif berikut ini disalin dari grup WhatsApp Bunsay#3_Jakarta yang disampaikan oleh fasilitator Mbak Arie Rahmah pada Selasa, 31 Oktober 2017 08.00 WIB.


*Game Kelas Bunda Sayang*
Level 1

TANTANGAN 10 HARI KOMUNIKASI PRODUKTIF
Selamaaat, Anda memasuki game level 1, di kelas bunda sayang ini.
πŸŽ‰πŸŽ‰πŸŽ‰πŸŽŠπŸŽŠ
Yuuk kita ikuti tantangan bulan ini. Silahkan disimak baik-baik ya.
Berikut ini tantangannya :

KOMUNIKASI KELUARGAKU
A. Buatlah "family forum" ( forum keluarga) sebagai sarana komunikasi ala keluarga Anda.
B. Pilih salah satu dari keluarga Anda untuk melakukan tantangan komunikasi produktif bersama selama minimal 10 hari.

🎁 Bagi Anda yang belum menikah , silahkan pilih salah satu dari ayah, ibu, kakak, adik atau sahabat
🎁 Bagi anda yang sudah menikah , silahkan pilih dengan pasangan atau salah satu dari anak Anda.

C. Amati dan ceritakan dengan narasi pendek, disertai foto juga boleh.

Ceritakan ;
πŸ€Hal menarik apa saja yang Anda dapatkan dalam berkomunikasi dengannya hari ini?
πŸ€Perubahan apa yang Anda buat hari ini dalam berkomunikasi?

D. Waktu tantangan yang kami berikan dari tanggal 2-18 november 2017
❓bagaimana caranya❓
πŸ“Œ Anda WAJIB mengupload/menceritakan 10 hari dari 17 hari yg kami sediakan.
πŸ“Œ Silahkan posting di blog ( sangat disarankan ), media sosial atau google doc.
πŸ“Œ Setiap kali posting/upload gambar di media sosial, jangan lupa gunakan hastag:

Atau label komunikasi produktif bagi Anda yang mengaplod tulisan melalui blog
πŸ“Œ Copy link tulisan Anda ke :
http://bit.ly/GameLevel1BunSay3
πŸ“Œ Silahkan lihat real time seluruh postingan Anda di :
http://bit.ly/CekHasilGameLevel1

Ssttt... selain badge dasar kelulusan, ada tambahan bagde cantik loh, ini dia syaratnya ;
πŸ“Œ Bagi Anda yang berhasil menyelesaikan tantangan selama 10 hari, menyetorkan konsisten tanpa rapel atau loncat, akan mendapatkan tambahan badge cantik bertuliskan ;
You're Excellent
πŸ“Œ Bagi anda yang sudah menyelesaikan tantangan di level 1 ini dengan tepat waktu, setiap hari, tanpa rapel tanpa loncat (dilihat dari tanggal publish setoran link), kemudian melanjutkan praktek dan setorannya hingga minimal 15 hari berturut-turut, akan mendapatkan tambahan badge cantik bertuliskan:
Outstanding Performance
🎁 Untuk semua peserta yang berhasil menyelesaikan tantangan minimal 10 hari dari 17 hari yang disediakan, baik dirapel akan atau tidak, akan mendapatkan bagde dasar kelulusan game level 1 yang sudah disiapkan oleh para tim fasilitator bunda sayang.
Selamat berkreasi dalam membangun komunikasi bersama keluarga
Salam Ibu Profesional,
/Tim Bunda Sayang 2017/



Wednesday, November 29, 2017

Materi#1 Kelas Bunda Sayang - Komunikasi Produktif

[Postingan yang tertunda]

Bersyukur Alhamdulillah inda bisa bergabung ke kelas Bunda Sayang #3 dan masuk ke materi pertama mengenai Komunikasi Produktif.

Komunikasi sebagai hal utama yang mendasari ketika kita berhubungan dengan orang lain, sangat penting supaya pesan bisa tersampaikan dengan cara yang tepat. Diperlukan ilmu dan konsistensi untuk melakukannya supaya komunikasi yang kita lakukan tidak menimbulkan salah paham. Ya, karena seringkali masalah berawal dari komunikasi yang tidak tersampaikan dengan baik.

Materi#1 Kelas Bunda Sayang - Komunikasi Produktif berikut ini disalin dari grup WhatsApp Bunsay#3_Jakarta yang disampaikan oleh fasilitator Mbak Arie Rahmah pada Senin 30 Oktober 2017 08.02 WIB.


πŸ“šπŸ“šπŸ“šπŸ“šπŸ“šπŸ“šπŸ“šπŸ“šπŸ“šπŸ“šπŸ“š

Institut Ibu Profesional
Materi Kelas Bunda Sayang Sesi #1



☘ KOMUNIKASI PRODUKTIF ☘

Selisih paham sering kali muncul bukan karena isi percakapan melainkan dari cara penyampaiannya. Maka di tahap awal ini penting bagi kita untuk belajar cara berkomunikasi yang produktif, agar tidak mengganggu hal penting yang ingin kita sampaikan, baik kepada diri sendiri, kepada pasangan hidup kita dan anak-anak kita.


πŸ‘©πŸ»‍πŸ’Ό KOMUNIKASI DENGAN DIRI SENDIRI πŸ‘©πŸ»‍πŸ’Ό
Tantangan terbesar dalam komunikasi adalah mengubah pola komunikasi diri kita sendiri. Karena mungkin selama ini kita tidak menyadarinya bahwa komunikasi diri kita termasuk ranah komunikasi yang tidak produktif.
Kita mulai dari pemilihan kata yang kita gunakan sehari-hari.

Kosakata kita adalah output dari struktur berpikir dan cara kita berpikir

Ketika kita selalu berpikir positif maka kata-kata yang keluar dari mulut kita juga kata-kata positif, demikian juga sebaliknya.

Kata-kata anda itu membawa energi, maka pilihlah kata-kata anda

Kata *Masalah* gantilah dengan *Tantangan*
Kata *Susah* gantilah dengan *Menarik*
Kata *Aku tidak tahu* gantilah *Ayo kita cari tahu*

Ketika kita berbicara “masalah” kedua ujung bibir kita turun, bahu tertunduk, maka kita akan merasa semakin berat dan tidak bisa melihat solusi.

Tapi jika kita mengubahnya dengan “TANTANGAN”, kedua ujung bibir kita tertarik, bahu tegap, maka nalar kita akan bekerja mencari solusi.

Pemilihan diksi (Kosa kata) adalah pencerminan diri kita yang sesungguhnya
Pemilihan kata akan memberikan efek yang berbeda terhadap kinerja otak. Maka kita perlu berhati-hati dalam memilih kata supaya hidup lebih berenergi dan lebih bermakna.
Jika diri kita masih sering berpikiran negatif, maka kemungkinan diksi (pilihan kata) kita juga kata-kata negatif, demikian juga sebaliknya.



πŸ‘« KOMUNIKASI DENGAN PASANGAN πŸ‘«
Ketika berkomunikasi dengan orang dewasa lain, maka awali dengan kesadaran bahwa “aku dan kamu” adalah 2 individu yang berbeda dan terima hal itu.
Pasangan kita dilahirkaan oleh ayah ibu yang berbeda dengan kita, tumbuh dan berkembang pada lingkungan yang berbeda, belajar pada kelas yang berbeda, mengalami hal-hal yang berbeda dan banyak lagi hal lainnya.
Maka sangat boleh jadi pasangan kita memiliki *Frame of Reference (FoR)* dan *Frame of Experience (FoE)* yang berbeda dengan kita.

FoR adalah cara pandang, keyakinan, konsep dan tatanilai yang dianut seseorang. Bisa berasal dari pendidikan ortu, bukubacaan, pergaulan, indoktrinasi dll.

FoE adalah serangkaian kejadian yang dialami seseorang, yang dapat membangun emosi dan sikap mental seseorang.
FoE dan FoR mempengaruhi persepsi seseorang terhadap suatu pesan/informasi yang datang kepadanya.
Jadi jika pasangan memiliki pendapat dan pandangan yang berbeda atas sesuatu, ya tidak apa-apa, karena FoE dan FoR nya memang berbeda.

Komunikasi dilakukan untuk MEMBAGIKAN yang kutahu kepadamu, sudut pandangku agar kau mengerti, dan demikian pula SEBALIKnya.


Komunikasi yang baik akan membentuk FoE/FoR ku dan FoE/FoR mu ==> FoE/FoR KITA

Sehingga ketika datang informasi akan dipahami secara sama antara kita dan pasangan kita, ketika kita menyampaikan sesuatu, pasangan akan menerima pesan kita itu seperti yang kita inginkan.
Komunikasi menjadi bermasalah ketika menjadi MEMAKSAKAN pendapatku kepadamu, harus kau pakai sudut pandangku dan singkirkan sudut pandangmu.

Pada diri seseorang ada komponen NALAR dan EMOSI; bila Nalar panjang - Emosi kecil; bila Nalar pendek - Emosi tinggi

Komunikasi antara 2 orang dewasa berpijak pada Nalar.

Komunikasi yang sarat dengan aspek emosi terjadi pada anak-anak atau orang yang sudah tua.
Maka bila Anda dan pasangan masih masuk kategori Dewasa --sudah bukan anak-anak dan belum tua sekali-- maka selayaknya mengedepankan Nalar daripada emosi, dasarkan pada fakta/data dan untuk problem solving.
Bila Emosi anda dan pasangan sedang tinggi, jeda sejenak, redakan dulu ==> agar Nalar anda dan pasangan bisa berfungsi kembali dengan baik.
Ketika Emosi berada di puncak amarah (artinya Nalar berada di titik terendahnya) sesungguhnya TIDAK ADA komunikasi disana, tidak ada sesuatu yang dibagikan; yang ada hanya suara yang bersahut-sahutan, saling tindih berebut benar.

Ada beberapa kaidah yang dapat membantu meningkatkan efektivitas dan produktivitas komunikasi Anda dan pasangan:

1. Kaidah 2C: Clear and Clarify
Susunlah pesan yang ingin Anda sampaikan dengan kalimat yang jelas (clear) sehingga mudah dipahami pasangan. Gunakan bahasa yang baik dan nyaman bagi kedua belah pihak.
Berikan kesempatan kepada pasangan untuk bertanya, mengklarifikasi (clarify) bila ada hal-hal yang tidak dipahaminya.

2. Choose the Right Time
Pilihlah waktu dan suasana yang nyaman untuk menyampaikan pesan. Anda yang paling tahu tentang hal ini. Meski demikian tidak ada salahnya bertanya kepada pasangan waktu yang nyaman baginya berkomunikasi dengan anda, suasana yang diinginkannya, dll.

3. Kaidah 7-38-55
Albert Mehrabian menyampaikan bahwa pada komunikasi yang terkait dengan perasaan dan sikap (feeling and attitude) aspek verbal (kata-kata) itu hanya 7% memberikan dampak pada hasil komunikasi.
Komponen yang lebih besar mempengaruhi hasil komunikasi adalah intonasi suara (38%) dan bahasa tubuh (55%).
Anda tentu sudah paham mengenai hal ini. Bila pasangan anda mengatakan "Aku jujur. Sumpah berani mati!" namun matanya kesana-kemari tak berani menatap Anda, nada bicaranya mengambang maka pesan apa yang Anda tangkap? Kata-kata atau bahasa tubuh dan intonasi yang lebih Anda percayai?
Nah, demikian pula pasangan dalam menilai pesan yang Anda sampaikan, mereka akan menilai kesesuaian kata-kata, intonasi dan bahasa tubuh Anda.

4. Intensity of Eye Contact
Pepatah mengatakan _mata adalah jendela hati_
Pada saat berkomunikasi tataplah mata pasangan dengan lembut, itu akan memberikan kesan bahwa Anda terbuka, jujur, tak ada yang ditutupi. Disisi lain, dengan menatap matanya Anda juga dapat mengetahui apakah pasangan jujur, mengatakan apa adanya dan tak menutupi sesuatu apapun.

5. Kaidah: I'm responsible for my communication results
Hasil dari komunikasi adalah tanggung jawab komunikator, si pemberi pesan.
Jika si penerima pesan tidak paham atau salah memahami, jangan salahkan ia, cari cara yang lain dan gunakan bahasa yang dipahaminya.
Perhatikan senantiasa responnya dari waktu ke waktu agar Anda dapat segera mengubah strategi dan cara komunikasi bilamana diperlukan. Keterlambatan memahami respon dapat berakibat timbulnya rasa jengkel pada salah satu pihak atau bahkan keduanya.



πŸ‘¨‍πŸ‘©‍πŸ‘§ KOMUNIKASI DENGAN ANAK πŸ‘¨‍πŸ‘©‍πŸ‘§

Anak –anak itu memiliki gaya komunikasi yang unik.

Mungkin mereka tidak memahami perkataan kita, tetapi mereka tidak pernah salah meng copy
Sehingga gaya komunikasi anak-anak kita itu bisa menjadi cerminan gaya komunikasi orangtuanya.
Maka kitalah yang harus belajar gaya komunikasi yang produktif dan efektif. Bukan kita yang memaksa anak-anak untuk memahami gaya komunikasi orangtuanya.
Kita pernah menjadi anak-anak, tetapi anak-anak belum pernah menjadi orangtua, sehingga sudah sangat wajar kalau kita yang harus memahami mereka.

Bagaimana Caranya ?

a. Keep Information Short & Simple (KISS)
Gunakan kalimat tunggal, bukan kalimat majemuk
 ⛔Kalimat tidak produktif :
“Nak, tolong setelah mandi handuknya langsung dijemur kemudian taruh baju kotor di mesin cuci ya, sisirlah rambutmu, dan jangan lupa rapikan tempat tidurmu.
 ✅Kalimat Produktif :
“Nak, setelah mandi handuknya langsung dijemur ya” (biarkan aktivitas ini selesai dilakukan anak, baru anda berikan informasi yang lain)

b. Kendalikan intonasi suara dan gunakan suara ramah
Masih ingat dengan rumus 7-38-55 ? selama ini kita sering menggunakan suara saja ketika berbicara ke anak, yang ternyata hanya 7% mempengaruhi keberhasilan komunikasi kita ke anak. 38% dipengaruhi intonasi suara dan 55% dipengaruhi bahasa tubuh
⛔ Kalimat tidak produktif:
“Ambilkan buku itu !” ( tanpa senyum, tanpa menatap wajahnya)
✅Kalimat Produktif :
“Nak, tolong ambilkan buku itu ya” (suara lembut , tersenyum, menatap wajahnya)
Hasil perintah pada poin 1 dengan 2 akan berbeda. Pada poin 1, anak akan mengambilkan buku dengan cemberut. Sedangkan poin 2, anak akan mengambilkan buku senang hati.

c. Katakan apa yang kita inginkan, bukan yang tidak kita inginkan
⛔Kalimat tidak produktif :
“Nak, Ibu tidak ingin kamu ngegame terus sampai lupa sholat, lupa belajar !”
✅Kalimat produktif :
“Nak, Ibu ingin kamu sholat tepat waktu dan rajin belajar”

d. Fokus ke depan, bukan masa lalu
⛔Kalimat tidak produktif :
“Nilai matematikamu jelek sekali,Cuma dapat 6! Itu kan gara-gara kamu ngegame terus,sampai lupa waktu,lupa belajar, lupa PR. Ibu juga bilang apa. Makanya nurut sama Ibu biar nilai tidak jeblok. Kamu sih nggak mau belajar sungguh-sungguh, Ibu jengkel!”
✅Kalimat produktif :
“Ibu lihat nilai rapotmu, hasilnya tidak sesuai dengan yang diharapkan, ada yang bisa ibu bantu? Sehingga kamu bisa mengubah strategi belajar menjadi lebih baik lagi”

e. Ganti kata ‘TIDAK BISA” menjadi “BISA”
Otak kita akan bekerja sesuai kosa kata. Jika kita mengatakan “tidak bisa” maka otak akan bekerja mengumpulkan data-data pendukung faktor ketidakbisaan tersebut. Setelah semua data faktor penyebab ketidakbisaan kita terkumpul, maka kita malas mengerjakan hal tersebut yang pada akhirnya menyebabkan ketidakbisaan sesungguhnya. Begitu pula dengan kata “BISA” akan membukakan jalan otak untuk mencari faktor-faktor penyebab bisa tersebut, pada akhirnya kita BISA menjalankannya.

f. Fokus pada solusi bukan pada masalah
⛔Kalimat tidak produktif :
“Kamu itu memang tidak pernah hati-hati, sudah berulangkali ibu ingatkan, kembalikan mainan pada tempatnya, tidak juga dikembalikan, sekarang hilang lagi kan, rasain sendiri!”
✅Kalimat produktif:
“ Ibu sudah ingatkan cara mengembalikan mainan pada tempatnya, sekarang kita belajar memasukkan setiap kategori mainan dalam satu tempat. Kamu boleh ambil mainan di kotak lain, dengan syarat masukkan mainan sebelumnya pada kotaknya terlebih dahulu”.

g. Jelas dalam memberikan pujian dan kritikan
Berikanlah pujian dan kritikan dengan menyebutkan perbuatan/sikap apa saja yang perlu dipuji dan yang perlu dikritik. Bukan hanya sekedar memberikan kata pujian dan asal kritik saja. Sehingga kita mengkritik sikap/perbuatannya bukan mengkritik pribadi anak tersebut.
⛔Pujian/Kritikan tidak produktif:
“Waah anak hebat, keren banget sih”
“Aduuh, nyebelin banget sih kamu”
✅Pujian/Kritikan produktif:
“Mas, caramu menyambut tamu Bapak/Ibu tadi pagi keren banget, sangat beradab, terima kasih ya nak”
“Kak, bahasa tubuhmu saat kita berbincang-bincang dengan tamu Bapak/Ibu tadi sungguh sangat mengganggu, bisakah kamu perbaiki lagi?”

h. Gantilah nasihat menjadi refleksi pengalaman
⛔Kalimat Tidak Produktif:
“Makanya jadi anak jangan malas, malam saat mau tidur, siapkan apa yang harus kamu bawa, sehingga pagi tinggal berangkat”
✅Kalimat Produktif:
“Ibu dulu pernah merasakan tertinggal barang yang sangat penting seperti kamu saat ini, rasanya sedih dan kecewa banget, makanya ibu selalu mempersiapkan segala sesuatunya di malam hari menjelang tidur.

i. Gantilah kalimat interogasi dengan pernyataan observasi
⛔Kalimat tidak produktif :
“Belajar apa hari ini di sekolah? Main apa saja tadi di sekolah?
✅Kalimat produktif :
“Ibu lihat matamu berbinar sekali hari ini,sepertinya bahagia sekali di sekolah, boleh berbagi kebahagiaan dengan ibu?”

j. Ganti kalimat yang Menolak/Mengalihkan perasaan dengan kalimat yang menunjukkan empati
⛔Kalimat tidak produktif :
"Masa sih cuma jalan segitu aja capek?"
✅kalimat produktif :
“kakak capek ya? Apa yang paling membuatmu lelah dari perjalanan kita hari ini?”

k. Ganti perintah dengan pilihan
⛔kalimat tidak produktif :
“ Mandi sekarang ya kak!”
✅Kalimat produktif :
“Kak 30 menit lagi kita akan berangkat, mau melanjutkan main 5 menit lagi, baru mandi, atau mandi sekarang, kemudian bisa melanjutkan main sampai kita semua siap berangkat
Salam Ibu Profesional,

/Tim Fasilitator Bunda Sayang #3/

Sumber bacaan:
Albert Mehrabian, Silent Message : Implicit Communication of Emotions and attitudes, e book, paperback,2000
Dodik mariyanto, Padepokan Margosari artikel, 2015
Institut Ibu Profesional, Bunda Sayang : Komunikasi Prod Gaza Media, 2014
Hasil wawancara dengan Septi Peni Wulandani tentang Pola Komunikasi di Padepokan Margosari